Sorry, may be less compatible with Internet Explorer. Diberdayakan oleh Blogger.

cover-image: Andien-kapanlagi.com

Minggu, 02 September 2012

Kematian di tangan kolesterol apa Tuhan?

depositphotos.com

Kolesterol? Siapa takut?


Pembunuh no 1 di dunia
Badan kesehatan PBB telah "menobatkan" kolesterol sebagai pembunuh no 1 di dunia. Tak ayal, di berbagai belahan bumi telah menggelorakan gerakan anti kolesterol. Bahkan, di Amerika secara ekplisit di diungkapkan bahwa junk food sebagai salah satu makanan yang harus dihindari karena mengandung kolesterol tinggi. Bagaimana di Indonesia? Tampaknya peringatan atas bahaya "kolesterol" ditanggapi dingin-dingin saja oleh masyarakat Indonesia. Bahkan menyantap junk food seolah merupakan indikator sebagai gaya hidup modern.
Bagi yang belum mengerti tentang bahaya kolesterol, bisa dipahami.Tapi, bagi yang sudah mengerti bahayanya, mengapa tetap "cuek" saja? Tetap disantap saja? Inilah yang menarik minat untuk ditemukan jawabannya.

Fakta berbicara
Ada fakta memang, banyak orang mengkonsumsi makanan berkolesterol tinggi, tapi tidak banyak yang meninggal karenanya.
Sebagai pembanding, banyak orang naik sepeda motor di jalan raya. Semua orang juga tahu kalau naik motor di jalan raya itu berisiko tinggi. Toh pengguna sepeda motor di jalan raya bahkan terus meningkat. Tidak semua pengendara motor mati di jalan raya, 'kan? Mati karena kolesterol atau mati karena naik motor, hanyalah argumen dalam tataran teoritis.

Kematian, ada di tangan Tuhan
Alasan seperti inilah yang sering terdengar. Siapa yang bisa menjanggah? So pasti, kematian berada di tangan Tuhan. Bukan di tangan "kolesterol" atau sepeda motor atau apa pun. Apa sih kejadian di dunia ini yang bukan karena tangan Tuhan?


Di Amerika. Kampanje anti junk food berkolesterol tinggi dilakukan dengan gencar. Sebaliknya, di Indonesia mengkonsumsi junk food sebagai "indikator" gaya hidup modern.

Mencari Pembanding
Ini dia! Pembanding yang cukup rumit untuk diperdebatkan. Makan "kolesterol" dan "naik motor". Dari sudut mana kita memandang dua hal ini agar memperoleh perbandingan sepadan? Kalau awal pembicaraan ini mengetengahkan ungkapan: Kematian berada di tangan Tuhan, dari sisi inilah kita memandang. Kita mulai dari sisi niat. Untuk apa kita makan "kolesterol". Apa niatnya, apa motivasinya? Sementara kita tahu, kolesterol adalah racun? Untuk apa kita makan itu racun? Untuk bertahan hidup? Apa mau bunuh diri?

Mengendari sepeda motor.
Untuk apa kita mengendarai motor di jalan raya? Apa niatnya? Apa motivnya? Untuk bertahan hidup? Atau, karena tidak punya pilihan lain? Atau karena keduanya?

Foto-foto di bawah ini dikutip dari teman-teman blogger. Setiap foto mencerminkan motiv (baca niat) yang masing-masing berbeda. Silahkan diamati. Misalnya, gambar 1, 2 dan 3. Apa niatnya? Bayangkan juga seandainya mereka punya pilihan lain. Seandainya mereka punya mobil, akankah memilih naik motor?
Bandingkan dengan gambar no 4,5 dan 6. Apa kira-kira niat nya? Di mata Tuhan, "niat" ini menentukan "kualitas kematian". Sama-sama berisiko mati tetapi ada bedanya.

Fokus
Oh,ya! Perlu saya ingatkan bahwa fokus kita kali ini, adalah pada upaya menghargai karunia Tuhan yang disebut hidup dengan tidak meracuni diri dengan kolesterol. Berbicara tentang gaya berkendara hanyalah sebagai pembanding,

Gb1. Jihad mencari nafkah-orangsableng.wordpress.com
Gb2. Jihad nyekolahin anak. kvltmagz.com

Gb3. Jihad mudik. republika.co.id
Gb4. Waduuuh! Bahaya, dik! blogdetik.com

Gb5. Pamer kebolehan, ya? - dwinugros.wordpress.com
Gb6. Pamer apa, ya? - mirror.co.uk

"Makan kolesterol" dan "naik motor" sama-sama berisiko tinggi. Tapi berbicara soal "niat", masalahnya jadi berbeda. Sejauh yang saya tahu, seseorang yang mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, disebut sebagai jihad fisabililiah (Berusaha semaksimal mungkin, di atas jalan Allah). Orang yang berjihad di jalan Allah, kalau mati, disebut mati sahid. Jadi dalam hal ini, jihad adalah berusaha semaksimal mungkin, untuk bertahan hidup! (lihat gambar no 3) Sama sekali bukan usaha bunuh diri! Sebaliknya, kalau makan racun kolesterol, untuk bertahan hidup atau bunuh diri?

karena dikaitkan alasan: kematian di "tangan Tuhan", bukan di "tangan kolesterol".

Postingku kali ini mungkin akan menimbulkan polemik. Tapi, bisa juga tidak, kalau kita tidak berfokus pada siapa yang menang berdebat. Kupikir, Anda akan bersikap lebih arif. Yaitu, menemukan segala sesuatu yang manfaatnya lebih banyak dibanding mudaratnya.
Bagaimana pun, Anda berhak menentukan sikap Anda sendiri. Anda berhak menentukan gaya hidup Anda sendiri.@


Artikel Terkait:

2 komentar:

Zevin mengatakan...

Jelas saja kematian ditangan Tuhan, krna Tuhan yg memberi hidup pd kita. Kolesterol itu cuma perantara kematian, kalo Tuhan menginginkan seseorang mati krna Kolesterol, Tuhan akan memberikan Kolesterol pada orang itu.

Whieenda mau Kolesterol? Hehehe...
Gmbr yg pamer itu blh jg tuh, coba kalo yg dipamerin yg bgian depan, pasti lebih asyik. Hehe..

Penyuluh Perikanan mengatakan...

Pada hakekatnya kematian ada di tangan Tuhan, koestrol memang bisa menjadi penyebab, tapi Tuhan juga yg menciptakannya, tapi dg pengetahuan Blog ini kita akan berusha utk menghindari, dan selalu waspada, juga pasrah dan berserah diri kpd Tuhan.Postingan menarik dpt menambah wawasan kita.
terima kasih

 

Paling Hangat

Followers

Apresiasi Anda